Trailerperdana untuk proyek film terbaru Sony, Morbius, resmi dirilis beberapa hari yang lalu.Selain memberikan first look tentang film dan sosok Morbius yang diperankan oleh Jared Leto, yang mengejutkan adalah filmnya ternyata memiliki hubungan atau terhubung dengan Marvel Cinematic Universe. Hal tersebut tentunya diluar dugaan para fans, karena seperti yang diketahui bahwa kesepakatan Kemudianpublish ke situs membuat pet owner atau pemilik hewan peliharaan mendapatkan berbagai informasi tentang hewan-hewan tersebut,dari situlah kita dapat memberikan public awareness atau kesadaran kepada masyarakat tentang hewan peliharaan, baik itu tentang cara merawat hewan peliharaan, komunitasnya dan sebagainya. MenulisCerita Pengalaman Memelihara Hewan oleh Siswa Kelas 3A. Oleh M. Rifan Fajrin September 05, 2019. Hari ini kami belajar bagaimana merawat hewan peliharaan di rumah. Kami menjadi tahu, bahwa cara merawat hewan peliharaan itu ada berbagai cara. Di antaranya adalah memberinya kandang yang layak, memberi makan dan minum, menjaga kesehatan Uchieladalah hewan yang sudah Andien pelihara selama 10 tahun. Kisah sedih tentang hewan peliharaan juga datang dari penyanyi Andien Aisyah. Cara Merawat dan Memelihara Hewan Kami siswa kelas 3A juga banyak yang memelihara hewan peliharaan di rumah. Di Indonesia sendiri juga telah banyak yang membudidayakan hewan yang satu ini harganya pun ContohMenceritakan Peliharaan Bahasa Inggris . Berikut adalah contoh menceritakan hewan peliharaan dalam Bahasa Inggris dan artinya. Anda bisa menggunakan cerita di bawah ini sebagai contoh dan inspirasi menceritakan hewan peliharaan kucing dalam Bahasa Inggris. English. I have a very cute pet cat. His fur is grey, so I named him Bubu. Denganmembaca teks tentang organ gerak hewan dan manusia, siswa dapat menyebutkan alat gerak hewan dan manusia secara benar. 2. Dengan kegiatan membaca, siswa dapat menentukan ide pokok setiap paragraf dalam bacaan 5 SBdP 3.1 Memahami gambar cerita. √ √ √ 4.1 Membuat gambar cerita. 14 JURNAL HARIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Satuan K5T8ZKG. Juli 24, 2022 Pelajaran SD Kelas 3 Orang tua menceritakan pengalaman kepada siswa tentang cara merawat hewan peliharaan, tugas kegiatan bersama orang tua. Pembahasan kunci jawaban tema 1 kelas 3 halaman 115, tepatnya pada materi pembelajaran 2 subtema 3 Pertumbuhan Hewan, buku tematik siswa kurikulum 2013 revisi 2017. Pembahasan kali ini merupakan lanjutan tugas sebelumnya, di mana kalian telah mengerjakan soal mengenai Bagaimana cara yang baik dalam menyampaikan saran kepadanya. Sudah mengerjakannya kan? Jika belum, silahkan buka link tersebut! Kegiatan Bersama Orang Tua Orang tua menceritakan pengalaman kepada siswa tentang cara merawat hewan peliharaan. Alternatif Jawaban 1 Aku di rumah punya seekor kucing. Kucingku namanya Ciko. CIku suka bermain-main dengan bola. Kami menyayangi Ciko karena Ciko sangat lucu dan menggemaskan. Dulu kami mengadopsi Ciko dari kucing milik teman papahku. Tiga bulan yang lalu Ciko melahirkan lima ekor anak kucing. Rumah kami menjadi sangat ramai. Setelah tiga bulan kelima anak Ciko diadopsi oleh teman-teman papahku. Kami bersedih. Adikku menangsi. Jika nanti Ciko mempunyai anak lagi, kami akan memeliharanya. Alternatif Jawaban 2 Saya mempunyai hewan peliharaan kucing. Saya beri nama Momo. Saya beri makan ikan. Momo suka mengikuti saya saat main di luar. Momo dan saya suka tidur bersama. Saya suka sekali mempunyai kucing seperti Momo. Kucing Momo selalu dekat dengan saya. Momo adalah jenis kucing kampung. Dia suka bermain bola kecil dan lari-lari bersama saya di luar dandia sering tidur di kasur yang halus dan empuk. Kucing momo bulunya oranye dan halus. Alternatif Jawaban 3 Aku mempunyai hewan peliharaan sepasang burung merpati. Warnanya putih bersih. Setiap hari kuberi makan dan minum serta tak lupa kubersihkan kandangnya. Burung merpatiku kadang terbang dan hinggap di dahan pohon. Jika sore hari, burung merpatiku kembali lagi ke kandangnya. Suatu hari, burung merpatiku tidak kembali ke kandangnya. Aku sangat sedih karena kehilangan hewan peliharaanku. Aku berharap semoga burung merpatiku menemukan komunitas barunya. Demikian pembahasan kunci jawaban tema 1 kelas 3 SD dan MI di buku tematik siswa halaman 115. Semoga bermanfaat dan berguna bagi kalian. Kerjakan juga soal lain pada materi pembelajaran 2 Subtema 3 Pertumbuhan Hewan. Terimakasih, selamat belajar! Jawaban lengkap, buka Kunci Jawaban Tema 1 Kelas 3 Halaman 109 110 111 114 115 Pembelajaran 2 Subtema 3 Pertumbuhan Hewan ra hewan, maka kamu perlu tahu bagaimana cara merawat hewan peliharaan yang benar. Dengan begitu, kamu pun bisa memberikannya makanan yang tepat. Sebelumnya, kamu bisa mencari tahu terlebih dahulu informasi seputar makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi hewan kesayangan kamu. Ada berbagai cara yang bisa kamu lakukan dalam mencari informasi tersebut, salah satunya adalah melalui internet. Akan tetapi, untuk mendapatkan informasi yang akurat maka sebaiknya kamu mengunjungi dokter hewan. Sebab, saat mengunjungi dokter hewan kamu juga bisa sekaligus bertanya mengenai jenis makanan dan juga porsi yang sesuai untuk hewan peliharaan yang kamu miliki. Dengan begitu, kamu bisa memberikannya porsi dan jenis makanan yang tepat. 4. Membersihkan Tubuhnya Dengan Teratur Selain menjaga pola makannya, cara merawat hewan peliharaan selanjutnya yang bisa kamu terapkan adalah dengan memandikannya secara teratur. Untuk itu, kamu pun jangan sampai terlupa untuk membersihkan badannya secara rutin. Hal tersebut berguna agar nantinya kondisi kesehatan dari hewan tersebut akan tetap terjaga. Untuk waktunya sendiri, anda bisa memandikannya kurang lebih sekitar 1 kali dalam waktu dua hingga tiga minggu. Tak hanya membersihkan badannya saja, kamu juga perlu untuk membersihkan tempat tinggal atau kandangnya. Tidak lupa pula tempat makan dan tempat minumnya juga perlu rutin untuk kamu bersihkan. Bagi kamu yang memiliki hewan peliharaan dengan ukuran yang besar maka kamu bisa membeli tempat khusus yang berfungsi untuk membersihkan hewan tersebut. Sebut saja seperti bak yang mempunyai ukuran yang besar. Selain itu, apabila kamu memiliki hewan peliharaan yang berbulu, maka pastikan juga untuk merawat bulunya. Contohnya saja, ketika kamu memelihara kucing di rumah selama pandemi. Maka kamu pun wajib untuk menyisir bulu kucing tersebut secara teratur. Cara merawat hewan peliharaan ini tentunya sangatlah penting. Hal ini dikarenakan berfungsi untuk mengangkat bulu bulu mati yang terdapat pada kucing. Selain itu, menyisir bulunya juga menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan jamur dan juga membasmi kutu yang terdapat di dalam kucing. Oleh karena itu, ketika kamu melakukan pembersihan, maka usahakan untuk melakukannya secara menyeluruh. Sehingga, hewan peliharaan pun akan semakin sehat dan tidak terkena berbagai macam penyakit. 5. Melakukan Kunjungan Secara Berkala ke Dokter Hewan Karena hewan juga merupakan makhluk hidup, maka mereka pun juga membutuhkan kunjungan ke dokter layaknya manusia. Oleh sebab itu, apabila kamu ingin serius untuk memelihara hewan, maka tak ada salahnya untuk melakukan cek kesehatan secara rutin dan berkala pada hewan peliharaan anda. Hal ini pun bisa kamu lakukan sejak mulai pertama kali mengadopsi hewan peliharaan tersebut. Sehingga, kamu bisa memberikan hewan peliharaan tersebut berupa vaksin dan juga hal lain agar tetap sehat. Selain itu, kamu juga bisa untuk berkonsultasi kepada dokter hewan tentang bagaimana cara merawat hewan peliharaan dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, kamu bisa menetapkan kunjungan pemeriksaan untuk hewan yang kamu pelihara. Di dalam kunjungan tersebut kamu juga bisa sekaligus menanyakan tentang apa saja yang diperlukan untuk merawat hewan, terutama dari segi medis. Sehingga, kamu pun bisa memberikan yang terbaik untuk hewan yang sedang dipelihara. Baca juga 8 Jenis Alat Tulis Kantor, Harus Tersedia Selama WFH! Beli Perlengkapan untuk Hewan dengan Cashbac Tidak perlu repot penuhi keperluan di rumah dengan Cashbac bisa Order dari Rumah atau buat kamu yang ingin datang langsung bisa gunakan Cashbac agar lebih hemat dengan Rewards hingga 100ribu di ACE Hardware, ACE Express, dan Informa. Jangan lupa pakai masker, jaga jarak aman dan selalu cuci tangan ya. Belanja di ACE Hardware, ACE Express, dan Informa dan merchant lainnya untuk keperluan rumah hingga keperluan untuk hewan peliharaan kamu seperti kandang, aquarium, mainan hewan, dsb, klik gambar di atas ya. Beberapa cara tersebut merupakan tips umum yang bisa kamu lakukan untuk merawat hewan peliharaan. Di dalam mengisi kekosongan aktivitas di masa pandemi, tak ada salahnya untuk memelihara hewan. Ada banyak hewan yang bisa kamu coba pelihara seperti, kucing, anjing, burung, kura kura hingga ikan menjadi pilihan yang tepat untuk memelihara hewan. Peringatan Sebagian foto yang ditampilkan dapat mengganggu kenyamanan Anda SINGAPURA Dari seluruh aksi penyelamatan hewan yang melibatkan Lee Yao Huang dalam 15 tahun kiprahnya bersama SPCA Society for the Prevention of Cruelty to Animals, atau Kelompok Pencegahan Kekejaman terhadap Hewan, ada satu yang begitu membekas. Di satu rumah susun di daerah Clementi, Singapura, seekor anjing jenis silky terrier ditemukan berkeliaran di satu lantai kosong. Moncongnya terkatup akibat belitan kuat karet gelang. Saat diselamatkan, karet itu telah menembus hingga ke tulang. Luka selebar 3 cm yang melingkari moncong anjing kecil tersebut tak lagi berdaging, mulai membusuk, serta anyir. Seseorang telah memilih cara kejam itu untuk membungkam gonggongannya. "Bayangkan kita jadi hewan, bagaimana rasanya kalau mulut kita dijahit atau diikat? Sampai tidak bisa makan, tidak bisa minum, tidak bisa komunikasi," ujar Yao Huang yang merupakan kepala operasional SPCA. Kasus serupa bukannya jarang terjadi. Laporan yang dirilis oleh SPCA pada April lalu menunjukkan bahwa kekejaman terhadap hewan di Singapura mencapai level tertinggi pada tahun lalu sejak 2020. Ada 481 kasus pada tahun 2020, 324 pada 2021, dan 511 pada 2022. Dan dalam tiga bulan pertama di tahun 2023, SPCA telah menangani sebanyak 229 kasus penyiksaan hewan. Menurut Aarthi Sankar, direktur eksekutif organisasi amal ini, jika tren yang sama berlanjut, diperkirakan laporan yang diterima oleh SPCA akan mencapai 800 kasus pada akhir tahun. Dalam enam bulan terakhir, rangkaian kasus penyiksaan terhadap hewan jadi sorotan di Singapura. Salah satunya melibatkan seorang anak yang melempar seekor kucing dari lobi lift. Ada pula pembantaian terhadap ular sanca oleh sekelompok pria di kawasan Boon Lay. CNA mewawancarai beberapa ahli kesehatan mental, kelompok perlindungan binatang, serta pihak berwenang. Ada apa di balik kasus-kasus penyiksaan terhadap hewan ini? Dapatkah dicegah? Bagaimana penanganan hukumnya? Seekor biawak diikat dengan selotip kiri dan tangkapan layar dari video yang menunjukkan seorang anak melontarkan kucing dari lobi lift di satu rumah susun. Foto ACRES, Facebook/Feline ADA YANG BERMULA DARI ISU KEJIWAAN Entah itu memukul ular karena takut, atau seseorang yang pemarah mendisiplinkan hewan peliharaannya dengan tangan besi, kekejaman terhadap hewan bisa berawal dari sesuatu yang sederhana seperti membalas serangan, atau yang lebih pelik seperti masalah kesehatan mental. Banyak pula motivasi yang tidak terkait dengan psikiatri. Ketidaktahuan akan cara merawat hewan secara tepat, sikap budaya dan lingkungan sosial tertentu, hingga emosi laten yang mendadak terpicu dapat berkontribusi terhadap perilaku menyiksa, kata Annabelle Chow, seorang psikolog klinis. Menurut para ahli, kondisi kejiwaan yang mendasari, seperti sifat impulsif, lemahnya kontrol emosional, dan kurangnya empati, termasuk pendorong utama perbuatan menyiksa hewan. Ketiga karakteristik tadi sering terlihat pada mereka yang memiliki gangguan kejiwaan, seperti individu dewasa yang antisosial. Menurut dr. Adrian Wang, seorang psikiater, penderita gangguan ini cenderung agresif dan sering melakukan kekerasan fisik maupun verbal. "Masalah utamanya ada pada core value system yang keliru. Mereka tidak bisa membaur di masyarakat karena cuma mementingkan diri sendiri. Mereka sering kali senang melihat orang lain menderita," jelas dr. Wang. "Meski diklasifikasikan sebagai gangguan kejiwaan, bukan berarti perilaku ini bisa dibenarkan. Di sini artinya ada cacat karakter dengan ciri utama berupa kurangnya empati dan rasa penyesalan." Psikiater dr. Lim Boon Leng setuju bahwa individu dengan ciri-ciri antisosial atau psikopatik memiliki tingkat empati yang rendah terhadap hewan. Menurut dr. Lim, mereka lebih tega menganiaya hewan karena tidak adanya dampak bagi diri mereka sendiri, sehingga hewan-hewan lemah di sekitar mereka pun menjadi sasaran empuk. "Di sini kita bicara soal apakah korban bisa mengekspos pelaku. Hewan kan tidak bisa mengekspos pelaku, jadi mereka ini korban yang sangat 'low-risk,' istilahnya. Saya kira itulah kenapa mereka terus balik ke hewan," tambahnya. Menurut dr. Wang, kontrol impuls yang lebih rendah juga menjadi ciri individu dengan IQ rendah maupun cacat intelektual. Ia menambahkan, individu semacam itu mungkin saja tidak mampu memahami konteks perilaku mereka. "Dibutuhkan fungsi otak yang lebih tinggi untuk mengendalikan dan mengelola emosi. Jadi yang IQ-nya rendah ini lebih meledak-ledak amarahnya." Psikiater konsultan senior di Promises Healthcare, Singapura, dr. Jacob Rajesh, menjelaskan bahwa rendahnya IQ juga bisa dikaitkan dengan kurangnya kemampuan mengatasi rasa frustrasi. "Mereka lebih impulsif. Saya pernah menjumpai satu atau dua kasus di mana mereka melukai kucing sampai cukup parah. Ini tidak terlalu umum, tapi bisa saja terjadi," ujarnya. Berdasarkan berbagai penelitian yang menyajikan korelasi antara kekerasan dalam rumah tangga dengan tindakan penyiksaan hewan, para ahli menyebutkan bahwa pelaku penyiksaan itu sendiri mungkin pernah menjadi korban kekerasan. "Para pelaku penyiksaan sering punya beberapa ciri dan pengalaman yang sama. Misalnya riwayat pengalaman traumatis dini seperti dilecehkan, ditelantarkan, atau penyalahgunaan narkoba, juga riwayat kekerasan dalam rumah tangga ataupun bullying," jelas Chow. Jika dibiarkan, mereka bisa makin kejam, makin sering melakukan kekejaman, bahkan dapat melakukannya terhadap sesama manusia, jelas para ahli. "Kalau sampai tega berlaku kejam terhadap hewan, itu tandanya kurang empati, dan ketika empati kurang, hal yang sama berlaku dalam perlakuan terhadap sesama manusia," kata dr. Lim. "Ketika tingkat empati seseorang itu lebih rendah, dia tidak merasakan sakit yang mungkin dirasakan orang lain, sehingga dia jadi lebih gampang menyakiti." Individu semacam ini mungkin saja menjadikan anggota keluarga yang cenderung pasrah, misalnya anak-anak, sebagai targetnya. KURANG KESADARAN BERBUAH INTOLERANSI Beberapa individu memilih untuk mengambil tindakan sendiri dan menyakiti hewan yang memasuki ruang-ruang hidup mereka. Anbarasi Boopal selaku salah satu direktur utama ACRES Animal Concerns Research and Education Society, atau Kelompok Penelitian dan Pendidikan Kepedulian Hewan mengaku ia telah menjumpai berbagai situasi semacam itu. Lembaga tersebut mencatat 69 kasus kekejaman terhadap satwa liar pada 2019, 49 pada 2020, 86 pada 2021, dan 56 pada tahun lalu. Ketika hewan liar ditemukan di tempat yang tidak terduga, mereka yang mencoba untuk memindahkan hewan tersebut pada akhirnya justru melukainya, kata Anbarasi. Dia menyebutkan, beberapa bulan lalu di satu gedung prasekolah, seorang guru menyiramkan air mendidih ke seekor ular-terbang firdaus hingga mati. Ular-terbang firdaus ini disiram oleh seorang guru prasekolah dengan air mendidih sampai mati. Foto ACRES Di antara kasus yang ditangani ACRES dalam tiga tahun terakhir adalah biawak yang dibeliti selotip, merpati yang ditancapi jarum, serta iguana dengan kaki diikat. "Ternyata ketika menyangkut hewan seperti ular dan biawak, orang cenderung mendahulukan rasa takut, dan apa pun yang dilakukan terhadap binatang-binatang itu dianggap benar," kata Anbarasi. "Itu dia kekhawatiran terbesar kami. Kami menemukan bahwa pencegahan saja tidak cukup. Kita butuh kesadaran lebih. Kita butuh toleransi lebih, juga pemahaman bahwa kalau Anda sebegitu takutnya dengan ular, seharusnya dari awal jangan didekati." Menurut Anbarasi, ketika interaksi antara manusia dengan alam begitu “terkendali” dan “tertata,” atau ketika keterhubungan manusia dengan hewan terbatas pada media, satwa liar cenderung disalahpahami. "Intinya, rasa takut yang kita semua punya itu ternyata kita serap, entah itu lewat film atau penggambaran tertentu tentang ular di media mainstream. Kata-kata seperti berbahaya, agresif, berbisa, racun – ada istilah-istilah tertentu yang dilekatkan dengan kelompok hewan tertentu." Melihat petugas ACRES memegang ular, orang-orang menyadari hewan tersebut tidak seseram yang mereka bayangkan, ujar Anbarasi. Ia menambahkan bahwa tidak ada satwa liar pemangsa manusia di Singapura. Dalam insiden yang terjadi baru-baru ini di luar Pasar Boon Lay Place, Singapura, sikap tidak toleran terhadap hewan yang dianggap berbahaya terlihat dalam penyiksaan terhadap seekor sanca kembang. Dalam satu video yang diunggah ke laman Facebook ACRES pada April lalu, sekelompok pria terekam mencengkeram sanca tersebut pada ekornya sembari menendangi dan memukulinya dengan kerat dan ember. Para pria itu tertawa sepanjang kejadian, hingga akhirnya salah satu dari mereka membunuh ular itu dengan cara menebasnya dengan pisau daging. Sekelompok pria terekam kamera tengah memukuli lalu memotong seekor sanca dengan parang di Pasar Boon Lay Place, 18 April 2023, menurut kelompok penyayang binatang ACRES. Tangkapan layar Instagram/eyesofacres Ditanya mengapa ada hewan yang disukai dan ada yang dibenci, para ahli mengatakan tiap hewan memang dinilai secara berbeda-beda, dan sebagian dianggap berbahaya. "Banyak orang takut ular dan melihatnya sebagai sesuatu yang jahat dan buruk. Dalam cerita rakyat, ular dipandang menjijikkan dan jahat, tapi secara biologis ular itu cuma hewan biasa," ujar dr. Wang. Dalam kasus-kasus yang melibatkan sekelompok orang, biasanya terdapat satu pemimpin dengan "kepribadian kuat" yang memengaruhi pihak lain untuk mengikutinya, kata dr. Wang. Ia menambahkan, hal serupa sering ditemukan dalam perkelahian antargeng. Ditambahkan dr. Rajesh, mentalitas keroyokan bisa jadi berperan dalam insiden ular sanca atau piton tadi. "Ketika seseorang menyerang, mencoba membunuh ular, kadang ada orang lewat yang lalu ikut-ikutan mencoba membunuh ular itu bersama-sama," katanya. "Saat ada empat atau lima laki-laki besar menyerang seekor piton, ada semacam rasa berkuasa, atau mungkin mereka merasa puas bisa menyakiti piton tersebut, dan mereka tahu kalau piton itu tidak bisa balas berbuat apa pun kepada mereka. "Ini mungkin gabungan dari tekanan pergaulan, mentalitas keroyokan, dan kemudian ada pula pelepasan emosi bagi diri mereka sendiri." Psikolog forensik senior di Promises Healthcare, June Fong, menambahkan bahwa ada pembagian rasa tanggung jawab dalam satu kelompok. "Jadi meskipun Anda tahu membunuh hewan itu salah, Anda tidak merasa bertanggung jawab sendirian karena yang lain juga melakukannya. Dan itu akan mengurangi keragu-raguan Anda," katanya. Menurut Presiden CWS Cat Welfare Society, atau Kelompok Peduli Kucing, Thenuga Vijakumar, kucing pernah dianggap sebagai hama karena jumlah kucing liar dulu terlalu banyak. "Awal mula saya jadi sukarelawan, CWS menemukan jauh lebih banyak kucing liar di jalanan daripada sekarang, dan itu pun sudah overpopulasi. "Akibatnya terjadi kekurangan sumber daya untuk merawat hewan-hewan tersebut, dan banyak yang sangat risih terhadap kucing karena jumlahnya yang terlalu banyak memunculkan gangguan bagi manusia," jelas Thenuga. Memberi makan secara sembrono juga turut membentuk citra “jorok” kucing, sebab sebagian orang melemparkan makanan untuk kucing begitu saja. Menurut Thenuga, kini orang-orang melihat bagaimana kucing dirawat secara bersih dan bertanggung jawab, sehingga citra yang lebih positif pun terbentuk. "Seiring waktu, dengan makin matangnya program sterilisasi dan makin banyaknya penyayang binatang yang terlibat, kami melihat populasi kucing di lapangan sudah lebih terkendali. "Jadi kejadian-kejadian buruk akibat banyaknya jumlah kucing sudah berkurang," tambah Thenuga yang memiliki lima ekor kucing. "Nah, yang kita lihat sekarang ini sepertinya lebih ke soal kesehatan mental, dan juga karena kucing-kucing liar gampang sekali dijadikan sasaran." KETIKA YANG MUDA MENYIKSA Kasus-kasus yang melibatkan remaja dan anak-anak jarang terjadi sebelum 2022. Tujuh laporan masuk ke SPCA tahun lalu, dan tahun ini sudah ada dua laporan. "Yang menakutkan adalah sifat dari kasus-kasus ini, bukan sekadar fakta yang terlibat itu anak-anak di bawah umur, tapi karena ada unsur kesengajaan untuk menyakiti dan melukai," ujar Aarthi. Ia menambahkan bahwa insiden semacam ini sudah melampaui rasa penasaran atau keingintahuan. "Keingintahuan itu misalnya ingin menyentuh anjing untuk merasakan sensasinya, atau ingin memegang ular karena terlihat licin." Menurutnya fenomena ini terkait dengan "elemen kebaruan," yakni ketika anak-anak meniru apa yang mereka lihat di media sosial, misalnya mengusili hewan peliharaan, demi kesenangan atau hiburan semata. "Saya bahkan tidak bisa bilang kalau itu rasa penasaran, karena saya lihat ... memaksa kucing makan rokok, hampir tidak ada di situ unsur penasarannya," kata Aarthi. Sebagian pakar lain percaya bahwa anak-anak bisa saja bertindak karena ketidaktahuan, sebab mereka tidak menyadari konsekuensi dari perilaku mereka. "Kalau orang tua kejam dan menghukum hewan, mungkin saja anak-anak juga melakukan hal yang sama," ujar dr. Boon Leng. "Kadang mereka merasa itu hal yang tepat karena mereka mungkin sedang melatih peliharaannya dan mencoba mencegahnya dari situasi yang menyusahkan, dan dengan memukul hewan itu, mereka kira itu cara yang tepat untuk melatihnya." Menurutnya, ketidakmampuan seorang anak untuk membedakan benar dan salah dapat membuat mereka bertindak tanpa melibatkan perasaan. "Bisa juga ada situasi di mana ... mereka bersikap kejam untuk memproyeksikan kemarahan, memproyeksikan kecemasan atau bahkan kadang mendapatkan kepuasan dan kesenangan dari berbuat kejam terhadap hewan itu," tambah dr. Lim. Dalam kasus-kasus lebih serius, anak-anak mungkin mengalami gangguan perilaku, imbuh para psikiater. Menurut dr. Rajesh, gangguan semacam ini tercermin pada perilaku buruk anak-anak, termasuk gemar berbohong, bolos sekolah, dan cenderung agresif atau kasar terhadap anak-anak lain maupun benda sekitar. "Jadi, sebagai bagian dari gangguan perilaku, mereka pun bisa menyakiti hewan. Gangguan perilaku bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian antisosial saat dewasa, ketika mereka bisa jadi melanjutkan kejahatan mereka," jelas dr. Rajesh. Ia menambahkan bahwa kurangnya penyesalan dan empati juga dapat menjadi ciri individu semacam ini. Ditanya bagaimana sifat-sifat semacam itu muncul, para psikiater menyebutkan kemungkinan perpaduan unsur genetika dengan faktor-faktor lain, misalnya tumbuh dalam keluarga disfungsional yang menormalisasi kekerasan. "Lingkungan yang membentuk kekerasan atau agresi itu mungkin bahkan lazim di masa sekarang ini, bukan cuma bullies, kawan sebaya atau anggota keluarga dan wali yang agresif," kata dr. Annabelle. "Mungkin saja anak-anak atau remaja terpapar kekerasan atau perilaku agresif lewat internet, mengingat jangkauan dan peredaran konten yang menggambarkan perilaku semacam itu." Seekor beo dengan sumpit diikatkan pada kedua kakinya kiri dan merpati dengan jarum-jarum tertancap di tubuhnya. Foto ACRES DAPATKAH DISEMBUHKAN? Menurut Fong dari Promises Healthcare, tanda-tanda yang mengindikasikan niat nuntuk menyiksa hewan bisa dikenali. “Mereka mungkin mencari informasi di internet tentang cara-cara menyakiti hewan atau menyingkirkan bangkai hewan,” jelasnya. “Kalau anak dan remaja memposting di media sosial atau menyukai video yang menampilkan hewan disiksa dan mendukung kekejaman terhadap hewan, itu juga bisa jadi petunjuk.” Sebagian besar tindakan penyiksaan dilakukan secara oportunistik dan impulsif, dan intervensi yang efektif sering kali hanya bisa dilakukan setelah kejadian. Menurut Chow, pelaku kekejaman terhadap hewan memiliki riwayat, kondisi, dan motivasi yang kompleks. Intervensi pun bergantung pada akar penyebabnya. Intervensi psikologis biasanya dimulai dengan mempelajari riwayat pelaku. Sebagai contoh, Chow memiliki pasien dengan trauma masa kecil. Kemarahan dan frustrasi ia lampiaskan dengan mencekik dan memukul kucing-kucingnya. Bagian dari perawatannya adalah membantunya memahami dan mengelola emosi, memaafkan masa lalunya, serta mencari cara-cara sehat untuk menyalurkan luapan perasaannya. Menurut dr. Wang, tak ada solusi sapu jagat dalam psikiatri. Konseling dan terapi merupakan komponen penting dalam proses pemulihan, tambahnya. "Konseling jangka panjang diperlukan karena kita perlu membantu mereka memahami bahwa perilaku mereka melukai orang lain," tambahnya. Menurut dr. Lim, pada kasus anak-anak yang diduga mengalami gangguan perilaku, intervensi keluarga terbukti bermanfaat. Ia menjelaskan bahwa melalui terapi yang melibatkan orang tua, anak-anak dapat mengurangi perilaku menyimpang. Di usia dini, kepribadian anak-anak belum sepenuhnya "terkonsolidasi," tambahnya. "Ini lebih ke terapi – yang terstruktur – menetapkan batasan, juga aturan," kata dr. Rajesh, lantas menambahkan bahwa individu dengan cacat intelektual dapat diajari aneka keterampilan guna meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Menurut Fong dan dr. Rajesh, terapi perilaku kognitif dapat membantu pasien mengembangkan empati serta kemampuan untuk mengevaluasi konsekuensi dari tindakan mereka. Para ahli umumnya sepakat bahwa ketika penyiksaan dilakukan berulang-ulang dan upaya konseling tidak berhasil, penjara mungkin satu-satunya solusi. Hukuman penjara menjadi contoh bagi yang lain bahwa tidak ada toleransi bagi perilaku menyiksa. SPCA dan ACRES menekankan pentingnya membentuk sikap yang baik terhadap hewan sejak usia dini melalui pendidikan dan interaksi positif dengan hewan. PENYIKSAAN HEWAN DALAM PENYELIDIKAN Sejak 2019, AVS Animal and Veterinary Service, atau Layanan dan Kedokteran Hewan, satu lembaga Singapura di bawah National Parks Board Dewan Taman Nasional, telah menyelidiki sekitar dugaan kasus kekejaman terhadap hewan setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 5 persen kasus yang meliputi kelalaian, penelantaran, dan penganiayaan telah diganjar tindakan hukum seperti denda nonsidang, surat peringatan, dan tuntutan pengadilan. Joshua Teoh, direktur investigasi di AVS, menyampaikan kepada CNA bahwa kebanyakan dari kasus-kasus lainnya melibatkan perselisihan antartetangga atau kecelakaan lalu lintas maupun kekerasan terhadap hewan liar. Setelah menerima laporan, petugas investigasi AVS biasanya mewawancarai saksi-saksi dan bekerja sama dengan berbagai kelompok peduli binatang, klinik hewan, dan lembaga pemerintah lainnya. AVS dapat melakukan razia untuk kasus-kasus tertentu. Menurut Teoh, satu jenis kasus yang sering terjadi adalah penelantaran hewan peliharaan dalam kondisi tidak layak. “Berdasarkan apa yang kami kumpulkan dan pelajari pada kasus-kasus terdahulu, saya kira bisa kami simpulkan bahwa mayoritas pemilik hewan peliharaan kurang pengetahuan dan kesadaran akan cara merawat hewan dengan baik,” imbuhnya. “Jadi menanggapi semua itu, kami mengambil jalur edukasi. Kami berusaha mengajari mereka hal yang benar dan menyampaikan bagaimana caranya bertanggung jawab atas hewan peliharaan, apa saja yang boleh dan tidak boleh. Kebanyakan dari mereka mau menerima dan menjadi lebih baik.” Di antara beberapa tantangan yang dihadapi AVS dalam proses investigasi adalah kurangnya bukti atau saksi mata. Kadang petugas harus mengandalkan bukti petunjuk, misalnya senjata yang digunakan atau laporan pascamortem hewan yang disiksa. Saat ini SPCA memiliki empat petugas lapangan dan satu juru inspeksi. Selain menyelamatkan hewan, badan amal ini juga menindaklanjuti laporan kelalaian, penyiksaan, dan penelantaran. Kasus-kasus dapat ditangani dalam satu minggu hingga dua tahun. Ketika petugas SPCA turun tangan, mereka yang dituduh menyiksa cenderung "sangat defensif." Dikisahkan oleh Aarthi, suatu kali ada dua anak laki-laki membawa anjing mereka berjalan-jalan, dan salah satunya terekam menarik tali kekang anjing kecilnya hingga terangkat ke udara. “Kami hubungi dan kami meminta pihak berwenang untuk bergabung memberi konseling, karena ini tipis batasnya antara apa kamu paham cara memelihara anjing’ dan apa kamu sengaja menyiksa.’ “Kedua anak itu datang bersama ayah mereka dan ayahnya sangat tidak senang putra-putranya terlibat hal semacam ini. “Dia berusaha membenarkan tindakan anak-anaknya ke kami dan kami selalu kesulitan ketika dia bilang, oh, kan ada tali kekangnya, memangnya apa salahnya kalau saya angkat anjingnya seperti ini?’ “Anda pun sadar mereka mencontoh itu dari orang tuanya.” Sebagian kasus tidak dapat dilanjutkan karena kurang bukti, kata Aarthi dan Lee kepada CNA. Menurut Lee, ada pula penyayang binatang yang begitu sedihnya hingga mereka mengkremasi hewan yang disiksa, menghilangkan bukti penting yang dibutuhkan SPCA untuk menindaklanjuti kasus. Terkadang perlakuan kejam terendus jauh belakangan. Lee berkisah tentang seekor anjing yang kelaparan selama berbulan-bulan. Bangkainya diserahkan kepada SPCA dalam keadaan tinggal "kulit dan tulang." Bangkai anjing yang tinggal "kulit dan tulang" saat diserahkan kepada SPCA. Foto SPCA Singapura Pada 2014, pemilik anjing tersebut dikenai denda terberat sebesar S$ sekitar Rp95 juta berdasarkan Undang-Undang Hewan dan Burung Singapura. SPCA sebelumnya meminta agar pemilik anjing tersebut dipenjara, menyatakan denda tersebut “tidak cukup untuk penelantaran dan penganiayaan yang sedemikian ekstrem dan menyiksa terhadap hewan tak bersalah dan tak berdaya,” sebagaimana dilansir koran TODAY Singapura. Senada dengan itu, Aarthi menyerukan pemberlakuan hukuman lebih berat serta larangan memiliki hewan peliharaan seumur hidup bagi pelaku. Menurut peraturan terkini di Singapura, pelaku dapat didiskualifikasi dari kepemilikan hewan peliharaan paling lama satu tahun. Menurut jawaban parlementer tertulis oleh Kementerian Pembangunan Nasional Singapura pada bulan Maret lalu, 11 perintah diskualifikasi telah diberlakukan pada tahun 2022 atas pelaku kekejaman terhadap hewan. Berdasarkan Undang-Undang Hewan dan Burung yang berlaku, pelaku kekejaman terhadap hewan dapat dihukum penjara hingga 18 bulan, denda hingga S$ sekitar Rp165 juta, atau keduanya. Jika mengulanginya, pelaku dapat dihukum penjara hingga tiga tahun, denda hingga S$ atau keduanya. Hukuman bisa lebih berat apabila pelaku bekerja di bidang yang berkaitan dengan hewan. Terkait kasus anjing jenis silky terrier yang moncongnya diikat, belum ada yang teridentifikasi sebagai pelaku. “Untungnya anjingnya sudah pulih dalam perawatan kami dan diadopsi beberapa bulan kemudian,” ujar Lee diiringi senyum. Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris. Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai nestapa pensiunan pesepak bola yang terpaksa jual medali demi penuhi kebutuhan hidup. Ikuti CNA di Facebook dan Twitter untuk lebih banyak artikel. Memelihara hewan peliharaan seperti kucing atau anjing dapat menjadi pengalaman yang berharga untuk anak. Anak dapat belajar mengenai tanggung jawab, empati, serta meningkatkan kepercayaan dirinya. Apakah si kecil juga tertarik memiliki hewan peliharaan, Parents? Dalam sebuah sesi Instagram Live yang diadakan theAsianparent Indonesia pada Kamis 4/3, Ayang Cempaka, ilustrator Indonesia yang tinggal di Dubai berbagi cerita mengenai pengalamannya memelihara hewan bersama keluarganya. Penasaran bagaimana kisahnya? Simak ceritanya berikut ini! Artikel terkait Bantu Tumbuhkan Karakter Positif, 7 Hewan Ini Cocok Jadi Peliharaan Si Kecil Kisah Ayang Cempaka Pelihara Empat Kucing Selain sebagai ibu dari dua orang anak, Ayang Cempaka juga merupakan ibu’ dari empat ekor kucing. Kucing-kucing Ayang bernama Maru, Mika, Mylo, dan Minou. Menariknya, Ayang ternyata dari dulu ingin sekali memelihara kucing, tetapi tak diperbolehkan oleh orangtuanya. “Aku waktu masih kecil enggak boleh punya binatang. Mungkin karena zaman dulu itu banyak miskonsepsi, ya, pengetahuannya masih kurang. Sebenarnya kucing itu sendiri enggak kotor, tapi kita saja yang belum paham cara merawat dan memeliharanya. Zaman sekarang, kan, sudah banyak, ya, sumber informasi,” ucapnya mengawali cerita. Lantaran dahulu tidak diperbolehkan punya hewan peliharaan oleh orangtua, setelah menikah dan pindah ke Dubai, Ayang langsung memutuskan untuk memiliki hewan peliharaan sendiri. “Setelah menikah, setelah keluar dari rumah orangtua langsung aku punya kucing. Kucing pertama aku itu ambil dari luar apartemen, umur 1 tahun,” ungkap Ayang. Kala itu sebagai orang yang baru memiliki hewan peliharaan, Ayang menjelaskan kesulitannya dalam memelihara hewan, yaitu masih belum mengetahui cara memeliharanya dengan benar. “Aku masih belum tahu cara memelihara hewan dengan benar, karena waktu itu masih dalam konsep kita enggak ngerti, mikirnya cuma melihara doang apa susahnya. Tapi ternyata harus steril, vaksin, begitu aku di sini aku baru merasa diedukasi ternyata,” lanjutnya. Kini Ayang memiliki empat ekor kucing. Tiga ekor kucing ia adopsi dari hasil rescue atau mengambil kucing yang terbuang, dan satu lagi ia beli dari breeder khusus kucing. Artikel Terkait 7 Tips Menyiapkan Hewan Peliharaan untuk Kehadiran Buah Hati Manfaat Memelihara Hewan untuk Anak Ajarkan Komitmen, Empati dan Tanggung Jawab Ayah berharap dengan punya hewan peliharaan dapat memberikan manfaat juga untuk para buah hatinya. Seperti, anak-anaknya bisa belajar lebih banyak hal dari memelihara kucing. “Yang aku pengin anakku juga mengerti empati dan unconditional love. Memang dari awal aku yang pengin punya kucing, ya, aku yang tanggung jawab. Anak sama suami enggak terlalu, tapi lihat aku yang sangat pengin jadi sekarang misalnya kita foster atau rescue kucing atau anjing, anak-anak justru yang lebih mengerti tanggung jawab,” ungkap Ayang. Ia juga bercerita mengenai anak pertamanya yang tadinya jijikan menjadi sangat perhatian dalam mengurus hewan yang tengah ia tampung sementara. “Anakku yang besar, dia jijikan tapi ternyata bisa mungut poop anjing, terus dipel. Aku aja sampai kaget, kok, dia bisa, jadi dia memang menunjukkan kalau dia tanggung jawab karena memang ia pengin memelihara,” Ayang bercerita. Salah satu hal yang dikhawatirkan orangtua dalam mengizinkan anak punya hewan peliharaan adalah ketika hewannya mati. Begitu pula yang terjadi dengan kucing Ayang yang bernama Mona yang telah berpulang beberapa waktu yang lalu. “Tahun 2019 kita punya kucing namanya Mona, dia kita rescue dan dia meninggal, Itu cepet banget prosesnya. Yang paling pertama nge-drop aku, aku nangis-nangis. Anak-anak lihat aku kayak gitu, jadi nangis juga. Tapi aku jelasin namanya makhluk hidup pasti akan ada saatnya meninggal. Lalu daripada sakit, kan, dia sakit di paru-parunya ada air, itu, kan, sakit banget,” lanjut Ayang berkisah. Tips Memilih Hewan Peliharaan Dalam memilih hewan peliharaan, Ayang menyarankan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu lifestyle atau gaya hidup sang pemiliknya. “Namanya juga hewan kan butuh kasih sayang, misalnya yang punya suka traveling, jarang di rumah, apakah oke untuk punya hewan peliharaan? Contohnya kalau punya anjing apa sanggup jalan-jalan setiap hari? Bisa enggak punya komitmen selama mereka hidup?” tandasnya. Dalam akun media sosial Instagram pribadinya, Ayang juga kerap berbagi mengenai tips-tips merawat kucing atau hewan peliharaan. Ia berharap dapat membantu mengingatkan betapa pentingnya komitmen dalam memelihara binatang. “Aku pernah bikin postingan di Instagram, sebelumnya kita mesti tahu komitmen punya anjing atau kucing itu luar biasa lama. Kucing masa hidupnya sekitar 22 tahun, kalau anjing 15 tahun. 15 tahun punya komitmen, ke vet, kasih makan, kalau kenapa-kenapa mesti siap secara emosional dan finansial,” Ayang berujar. Artikel Terkait 5 Tips Ibu Hamil Memelihara Hewan di Rumah, Wajib Catat Parents! Jika anak ingin punya hewan peliharaan, orangtua dapat membantu membimbingnya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap binatang miliknya. Supervisi orangtua ketika anak merawat hewan juga sangat diperlukan. “Kalau orang dewasa mungkin mengerti, kalau anak balik lagi ke orangtua. Harus ada planning-nya. Aku ke anak aku, aku kasih dia rasa tanggung jawab, bahwa binatang peliharaan adalah bagian dari keluarga. Menurut aku itu tanggung jawab orangtua untuk menekankan itu,” katanya. Tak hanya itu, Ayang juga menyarankan untuk melakukan riset terlebih dahulu sebelum membeli hewan peliharaan. Anak harus tahu apa saja kebutuhan sang hewan, cara merawat dengan baik, serta apa yang tidak boleh dan tidak boleh dilakukan kepada peliharaannya. “Pesanku adalah do your research, cari tahu sebanyak-banyaknya. Lalu conscious, sadar tahu ukuran diri sendiri, tak boleh egois sebelum memutuskan punya hewan. Terakhir, kalau bisa sebaiknya adopt don’t shop, adopsi saja daripada beli,” pesan Ayang sembari mengakhiri ceritanya. Dari pengalaman Ayang Cempaka mengurus dan merawat kucing bersama anak-anaknya, Parents bisa tahu bahwa merawat hewan itu rumit dan perlu komitmen dalam waktu yang lama. Tugas orangtua adalah membimbing anak agar bisa mendapatkan pelajaran yang berharga dalam memelihara hewan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya, Parents! Baca Juga Anak digigit hewan peliharaan, ini pertolongan pertama yang harus dilakukan Wajah Bayi dicakar Hewan Peliharaan, Peringatan Bagi Para Orangtua Tidur dengan hewan peliharaan, aman atau berbahaya untuk kesehatan? Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

cerita tentang merawat hewan peliharaan